ALLOPOST_BANGKA BARAT – Menjaga hampir 400 orang warga binaan dengan hanya mengandalkan 10 personel petugas dalam satu shift sekilas terdengar mustahil secara matematis.
Namun, di Rutan Kelas IIB Mentok, angka-angka rasional itu dikalahkan oleh sebuah prinsip sederhana: memanusiakan manusia.
Kepala Rutan Mentok, Andri Firly, meyakini bahwa keamanan sejati tidak tumbuh dari rasa takut, melainkan dari rasa saling menghargai. Di tengah upaya ketat membersihkan rutan dari HP, pungli, narkoba, dan peredaran uang, sisi kemanusiaan warga binaan tetap ditaruh di posisi paling depan.
Saat duka menghampiri dan keluarga inti warga binaan meninggal dunia, Rutan Mentok tidak menutup mata. Melalui prosedur status cito yang sah, warga binaan diberikan izin melayat dengan pengawalan ketat.
Tak hanya itu, hak dasar air bersih pun diperhatikan dengan mengganti bak mandi menjadi sistem shower untuk menjamin efisiensi sekaligus mencegah barang terlarang.
Pendekatan ini kian lengkap dengan adanya Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE).
Kunjungan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Babel, Ade Agustina, pada Selasa (15/9/2026) menyaksikan langsung bagaimana para warga binaan memanen sekitar 300 butir telur dari 700 ayam petelur yang mereka kelola.
“Kebingungan saat bebas adalah pemicu utama kejahatan berulang. Di sini mereka belajar mencari uang halal lewat peternakan dan pertukangan,” ujar Andri Firly.
Melalui sentuhan nurani dan pembekalan karya, Rutan Mentok tak sekadar memenjarakan fisik, tetapi merangkul jiwa untuk pulang sebagai manusia baru.








