ALLOPOST_BANGKA BARAT — Polemik seputar aktivitas tambang rakyat di Dusun Kampak, Desa Jebus, Kecamatan Jebus, Kabupaten Bangka Barat kian memanas. Warga setempat kini terang-terangan mempertanyakan integritas serta motif di balik gundahnya sejumlah pihak yang gencar mendesak agar tambang rakyat di wilayah mereka segera ditutup.
Gelombang penolakan penutupan ini tidak lagi sekadar bicara legalitas, melainkan menyasar isu dugaan “penungpangan” kepentingan bisnis di balik narasi penyelamatan lingkungan.
Kecurigaan masyarakat menguat setelah beredar dugaan adanya oknum wartawan yang dinilai tidak netral dalam memberitakan isu tambang Kampak. IM, seorang warga lokal, menduga ada upaya sistematis untuk menggiring opini publik agar tambang rakyat dihentikan.
IM menduga ada keterlibatan oknum wartawan yang melampaui tugas jurnalistiknya, diduga menerima dukungan atau sponsor dari pihak perusahaan smelter tertentu guna menguasai akses timah di wilayah tersebut.
“Kalau masyarakat diminta berhenti menambang, sebenarnya untuk siapa kepentingan itu? Jangan sampai masyarakat yang dihentikan, tapi ada pihak lain yang kemudian mengambil timahnya,” cecar IM. Ia menegaskan, kontrol sosial pers tetap dibutuhkan, namun harus terbebas dari agenda bisnis terselubung.
Suara dari akar rumput menunjukkan bahwa tambang rakyat bukan cuma soal angka produksi timah, melainkan penopang utama urat nadi ekonomi lokal.
Pernyataan Meli, pemilik warung di Kampak, mengakui bahwa pendapatan usaha mikro sangat bergantung pada hilir-mudik para penambang.
Haji Amat, tokoh masyarakat setempat, menyoroti kondisi mushola dan masjid dusun yang memprihatinkan dan membutuhkan dana rehabilitasi dari hasil swadaya ekonomi warga.
Senada, Rudi yang merupakan tokoh masyarakat lainnya, meminta media luar tidak sepihak dan turun langsung melihat realita hidup masyarakat Kampak.
Pihak redaksi media lokal mencatat bahwa dugaan aliran dana dari smelter kepada oknum wartawan tersebut sejauh ini masih sebatas kesaksian narasumber (IM) dan belum terbukti secara hukum. Pihak-pihak terkait, baik oknum insan pers yang dimaksud maupun manajemen smelter, memiliki hak jawab penuh untuk memberikan klarifikasi demi mencegah fitnah.
Meski demikian, warga Kampak menegaskan menolak dijadikan korban dari pertarungan kepentingan elite. Mereka menuntut transparansi total: siapa yang membiayai gerakan penutupan, apa alasannya, dan ke mana aliran manfaat timah Kampak akan bermuara jika rakyat kecil dipaksa gulung tikar.













