Warga Kampak Buka Suara, Inginkan Dampak Nyata Tambang Rakyat untuk Fasilitas Desa dan Ekonomi Kecil

Bangka Barat9 Dilihat

ALLOPOST_BANGKA BARAT — Riak perdebatan mengenai aktivitas tambang rakyat di Dusun Kampak, Desa Jebus, Kabupaten Bangka Barat, terus menyita perhatian publik. Namun di tengah silang pendapat yang kian memanas, warga setempat berharap fokus pembahasan bergeser pada hal yang lebih fundamental: kesejahteraan warga dan kontribusi konkret bagi pembangunan kampung.

Masyarakat Dusun Kampak menilai, keberadaan kegiatan ekonomi berbasis pertambangan seharusnya tidak sekadar menjadi bahan polemik berkepanjangan. Kebutuhan sosial yang mendesak, seperti perbaikan fasilitas ibadah dan kepastian mata pencaharian, dinilai perlu mendapat perhatian utama dari para pihak terkait.

Tokoh masyarakat Dusun Kampak, Haji Amat, menyoroti kondisi sarana ibadah di wilayahnya yang memerlukan pembenahan segera agar layak dan nyaman digunakan.

“Kami sangat berharap ada bantuan untuk perbaikan mushola dan masjid dusun. Kondisinya sudah memprihatinkan, padahal ini pusat ibadah dan kegiatan warga,” ungkap Haji Amat.

Ia menekankan bahwa pemenuhan sarana umum seperti tempat ibadah merupakan kepentingan bersama yang dampaknya langsung dirasakan oleh seluruh warga kampung.

Pandangan senada disampaikan Rudi, tokoh masyarakat setempat lainnya. Menurutnya, setiap kegiatan ekonomi yang beroperasi di suatu daerah idealnya memberikan timbal balik positif bagi lingkungan sekitar.

“Jangan hanya berbicara soal hasil tambangnya saja, tetapi bagaimana keberadaan kegiatan tersebut bisa ikut membangun kampung. Jangan sampai perdebatan yang ada justru mengabaikan kebutuhan nyata masyarakat,” tutur Rudi.

Dampak ekonomi dari aktivitas penambangan juga dirasakan langsung oleh para pelaku usaha mikro di Kampak. Meli, salah seorang pedagang lokal, menuturkan bahwa perputaran uang di sekitar area tambang turut menghidupkan warung-warung kecil milik warga.

“Kalau aktivitas ramai, warung ikut hidup. Ada yang beli makanan, kopi, dan kebutuhan sehari-hari. Bagi rakyat kecil, usaha inilah yang menjadi sumber penghidupan keluarga,” ujar Meli, sembari berharap pemerintah dapat bijak mengambil kebijakan agar ekonomi warga tidak terpuruk.

Di sisi lain, muncul pula dorongan agar pemberitaan dan ruang diskusi mengenai situasi di Kampak berjalan secara berimbang. Rudi meminta agar aspirasi warga yang menggantungkan hidup dari sektor ini juga didengar, bukan hanya narasi dari pihak yang menolak.

Sementara itu, seorang warga berinisial IM melontarkan sorotan terkait munculnya tekanan untuk menghentikan tambang rakyat. Ia mempertanyakan transparansi di balik gerakan tersebut dan mengkhawatirkan adanya kepentingan pihak tertentu yang memanfaatkan situasi untuk menguasai potensi cadangan timah di area tersebut.

Dugaan semacam ini dinilai perlu diverifikasi lebih lanjut agar tidak menimbulkan simpang siur informasi, sekaligus memberikan kesempatan bagi pihak-pihak terkait untuk memberikan klarifikasi.

“Warga tidak ingin dihentikan lalu justru ada pihak lain yang masuk mengambil alih. Semua harus transparan,” tegas IM.

Pada akhirnya, warga Dusun Kampak berharap pemerintah dan pemangku kepentingan hadir untuk membuka ruang komunikasi yang konstruktif. Bagi mereka, penyelesaian polemik tambang rakyat harus dibarengi dengan solusi nyata: tata kelola yang jelas, keberlanjutan ekonomi warga, serta dukungan terhadap fasilitas publik demi kemajuan kampung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *